Kitab Musarar Jayabaya
Asmarandana
1.
Kitab Musarar dibuat
tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk,
tak ada yang berani.
2.
Beliau sakti sebab
titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
3.
Terkisahkan bahwa Sang
Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di
Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.
4.
Hal tersebut
menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu,
seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
5.
Lengkapnya bernama Ngali
Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang
raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
6.
Setelah duduk Sultan
Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah
padamu menge.nai Kitab Musarar.
7.
Yang menyebutkan tinggal
tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu
mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak
Dewata.
8.
Sang Prabu segera
menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui
semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
9.
Kelak akan diletakkan
dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi
untuk menaikkan kutbah,
10.
Senjata ecis itu yang
bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang
mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah
Jawa.
11.
Raja Pandita pamit dan
musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu
memanggil putranya.
12.
Setelah sang putra
datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu
naik ke gunung.
13.
Di sana ada Ajar bernama
Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk
titisan Batara Wisnu..
14.
Karenanya Sang Prabu
sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu
menerima sasmita gaib.
15.
Bila Islam seperti Nabi.
Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di
gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
16.
Tergopoh-gopoh
menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa
sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn
endangnya.
17.
Jadah (ketan) setakir,
bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir
sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
18.
Kedelapan endang
seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami
untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
19.
Ki Ajar ditikam mati.
Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik
berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
20.
Sang putra akan bertanya
merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara
dengan putranya.
21.
Heh anakku. Kamu tahu
ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana
Ngali Samsujen tatkala masih muda.
Sinom
1.
Dia itu sudah diwejang
(diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia
menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa
saya tinggal 3 kali lagi.
2.
Bila sudah menitis tiga
kali kemudian ada zaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana
Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang zaman Catur semune segara
asat.
3.
Itulah Jenggala, Kediri,
Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia
diatas bumi. Menghancurkan keburukan.
4.
Setelah 100 tahun musnah
keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada zaman lagi yang bukan milik saya, sebab
saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
5.
Di dalam teken sang guru
Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada zaman Anderpati
yang bernama Kala-wisesa.
6.
Lambangnya: Sumilir naga
kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa
keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
7.
Sebab berperang dengan
saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir
sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti zaman di Majapahit dengan rajanya
Prabu Brawijaya.
8.
Demikian nama raja
bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh
windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari
hidangan ki Ajar.
9.
Hidangannya Jadah satu
takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti
zaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan
pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
10.
Enam puluh lima tahun
kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta.
Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki
Ajar.
11.
Negara tersebut diberi
lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti zaman
Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh
anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
12.
Negara ini diberi
lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan
uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian
berganti zaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
13.
Dicintai pasukannya.
Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga
sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu
yang adil.
14.
Raja perkasa tetapi
berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan
bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang
sinipat.
15.
Kemudian berganti lagi
dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat
yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian
musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
16.
Berdagang di tanah Jawa
kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang,
sehingga terpandang di pulau Jawa. zaman sudah berganti meskipun masih
keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
17.
Raja berpasukan campur
aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli
semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya
musoni. Tidak lama kemudian berganti.
18.
Nama rajanya Lung gadung
rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki
kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja
yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan
sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
19.
Waktu itu pajaknya
rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah
sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak.
Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
20.
Negara rusak. Raja
berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti zaman
Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya
Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin
menjatuhkan).
21.
Nakhoda(Orang asing)ikut
serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak)
tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar.
Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer
tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk
menggantikannya).
22.
Tidak berkesempatan
menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya
masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah
lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang
Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
23.
Pajak rakyat banyak
sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang.
orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah
kesengsaraan negara.
24.
Hukum dan pengadilan
negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar
dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak
orang melupakan Tuhan dan orang tua.
25.
Wanita hilang
kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai
perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
26.
Banyak hal-hal yang luar
biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah
Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
27.
Kemudian kelak akan
datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih
tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi
raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut
ke dalam persidangan.
28.
Raja keturunan
waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat
menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)).
Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai
pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
29.
Waktu itulah ada
keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki
Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis
sekali.
Isi
Ramalan
6.
Iku tandha yen tekane
zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
11.
Iku tandhane yen wong
bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman
berbolak-balik
12.
Akeh janji ora ditetepi
--- Banyak janji tidak ditepati.
14.
Manungsa padha seneng
nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
16.
Barang jahat
diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
19.
Lali kamanungsan--- Lupa
jati kemanusiaan.
20.
Lali kabecikan--- Lupa
hikmah kebaikan.
21.
Lali sanak lali
kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
22.
Akeh bapa lali anak---
Banyak ayah lupa anak.
23.
Akeh anak wani nglawan
ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
24.
Nantang bapa---
Menantang ayah.
25.
Sedulur padha cidra---
Saudara dan saudara saling khianat.
26.
Kulawarga padha
curiga--- Keluarga saling curiga.
27.
Kanca dadi mungsuh ---
Kawan menjadi lawan.
28.
Akeh manungsa lali asale
--- Banyak orang lupa asal-usul.
30.
Akeh pangkat sing jahat
lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
31.
Akeh kelakuan sing
ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
32.
Wong apik-apik padha
kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
33.
Akeh wong nyambut gawe
apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
34.
Luwih utama ngapusi ---
Lebih mengutamakan menipu.
36.
Kepingin urip mewah ---
Inginnya hidup mewah.
37.
Ngumbar nafsu angkara
murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
38.
Wong bener
thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
39.
Wong salah bungah ---
Orang (yang) salah gembira ria.
40.
Wong apik
ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
42.
Wong agung kasinggung---
Orang (yang) mulia dilecehkan
43.
Wong ala kapuja--- Orang
(yang) jahat dipuji-puji.
44.
Wong wadon ilang
kawirangane--- perempuan hilang malu.
45.
Wong lanang ilang
kaprawirane--- Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
46.
Akeh wong lanang ora
duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
48.
Akeh ibu padha ngedol
anake--- Banyak ibu menjual anak.
49.
Akeh wong wadon ngedol
awake--- Banyak perempuan menjual diri.
50.
Akeh wong ijol bebojo---
Banyak orang gonta-ganti pasangan.
51.
Wong wadon nunggang
jaran--- Perempuan menunggang kuda.
53.
Randha seuang loro---
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
54.
Prawan seaga lima---
Lima perawan lima picis.
55.
Dhudha pincang laku
sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
57.
Akeh wong ngaku-aku---
Banyak orang mengaku diri.
59.
Ngakune suci, nanging
sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60.
Akeh bujuk akeh lojo---
Banyak tipu banyak muslihat.
64.
Akeh jabang bayi lahir
nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
66.
Prikamanungsan saya
ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
69.
Wong wadon lacur ing
ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
72.
Anak mangan bapak---Anak
makan bapak.
73.
Sedulur mangan
sedulur---Saudara makan saudara.
74.
Kanca dadi
mungsuh---Kawan menjadi lawan.
76.
Tangga padha
curiga---Tetangga saling curiga.
78.
Sing weruh
kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
79.
Sing ora weruh
ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
82.
Akeh wong becik saya
sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
83.
Wong jahat saya
seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
84.
Wektu iku akeh dhandhang
diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85.
Wong salah dianggep
bener---Orang salah dipandang benar.
88.
Wong jahat munggah
pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
89.
Wong lugu kebelenggu---
Orang yang lugu dibelenggu.
90.
Wong mulya dikunjara---
Orang yang mulia dipenjara.
91.
Sing curang garang---
Yang curang berkuasa.
92.
Sing jujur kojur--- Yang
jujur sengsara.
95.
Akeh barang
haram---Banyak barang haram.
96.
Akeh anak haram---Banyak
anak haram.
97.
Wong wadon nglamar wong
lanang---Perempuan melamar laki-laki.
98.
Wong lanang ngasorake
drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99.
Akeh barang-barang mlebu
luang---Banyak barang terbuang-buang.
100.
Akeh wong kaliren lan
wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
101.
Wong tuku ngglenik sing
dodol---Pembeli membujuk penjual.
102.
Sing dodol akal
okol---Si penjual bermain siasat.
104.
Sing kebat kliwat---Yang
tangkas lepas.
105.
Sing telah sambat---Yang
terlanjur menggerutu.
106.
Sing gedhe
kesasar---Yang besar tersasar.
107.
Sing cilik
kepleset---Yang kecil terpeleset.
108.
Sing anggak
ketunggak---Yang congkak terbentur.
109.
Sing wedi mati---Yang
takut mati.
110.
Sing nekat
mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
111.
Sing jerih
ketindhih---Yang hati kecil tertindih
112.
Sing ngawur
makmur---Yang ngawur makmur
113.
Sing ngati-ati
ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
114.
Sing ngedan
keduman---Yang main gila menerima bagian.
115.
Sing waras
nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
116.
Wong tani
ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
117.
Wong dora
ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
118.
Ratu ora netepi janji,
musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119.
Bupati dadi
rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120.
Wong cilik dadi
priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
121.
Sing mendele dadi
gedhe---Yang curang jadi besar.
122.
Sing jujur kojur---Yang
jujur celaka.
123.
Akeh omah ing ndhuwur
jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
124.
Wong mangan wong---Orang
makan sesamanya.
125.
Anak lali bapak---Anak
lupa bapa.
126.
Wong tuwa lali
tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
127.
Pedagang adol barang
saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
128.
Bandhane saya
ludhes---Namun harta mereka makin habis.
129.
Akeh wong mati kaliren
ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130.
Akeh wong nyekel bandha
nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131.
Sing edan bisa
dandan---Yang gila bisa bersolek.
132.
Sing bengkong bisa
nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
133.
Wong waras lan adil
uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134.
Ana peperangan ing
njero---Terjadi perang di dalam.
135.
Timbul amarga para
pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah
faham.
136.
Durjana saya
ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
137.
Penjahat saya
tambah---Penjahat makin banyak.
138.
Wong apik saya
sengsara---Yang baik makin sengsara.
139.
Akeh wong mati jalaran
saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
140.
Kebingungan lan
kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
141.
Wong bener saya
thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
142.
Wong salah saya
bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
143.
Akeh bandha musna ora
karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
144.
Akeh pangkat lan drajat
pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah
mengapa.
145.
Akeh barang-barang
haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146.
Bejane sing lali, bejane
sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147.
Nanging sauntung-untunge
sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
148.
Isih untung sing
waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
149.
Angkara murka saya
ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
150.
Kana-kene saya
bingung---Di sana-sini makin bingung.
151.
Pedagang akeh
alangane---Pedagang banyak rintangan.
152.
Akeh buruh nantang
juragan---Banyak buruh melawan majikan.
153.
Juragan dadi
umpan---Majikan menjadi umpan.
154.
Sing suwarane seru oleh
pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155.
Wong pinter
diingar-ingar---Si pandai direcoki.
156.
Wong ala diuja---Si
jahat dimanjakan.
157.
Wong ngerti mangan ati---Orang
yang mengerti makan hati.
158.
Bandha dadi
memala---Hartabenda menjadi penyakit
159.
Pangkat dadi
pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
160.
Sing sawenang-wenang
rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
161.
Sing ngalah rumangsa
kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
162.
Ana Bupati saka wong
sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
163.
Patihe kepala
judhi---Maha menterinya benggol judi.
164.
Wong sing atine suci
dibenci---Yang berhati suci dibenci.
165.
Wong sing jahat lan
pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166.
Pemerasan saya
ndadra---Pemerasan merajalela.
169.
Maling wani nantang sing
duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
170.
Begal pada
ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
172.
Wong momong mitenah sing
diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
173.
Wong jaga nyolong sing
dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
174.
Wong njamin njaluk
dijamin---Si penjamin minta dijamin.
176.
Kana-kene rebutan
unggul---Di mana-mana berebut menang.
177.
Angkara murka
ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
178.
Agama ditantang---Agama
ditantang.
179.
Akeh wong angkara
murka---Banyak orang angkara murka.
180.
Nggedhekake
duraka---Membesar-besarkan durhaka.
181.
Ukum agama
dilanggar---Hukum agama dilanggar.
182.
Prikamanungsan
di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
183.
Kasusilan
ditinggal---Tata susila diabaikan.
184.
Akeh wong edan, jahat
lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185.
Wong cilik akeh sing
kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
186.
Amarga dadi korbane si
jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187.
Banjur ana Ratu duwe
pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188.
Lan duwe prajurit---Dan
punya prajurit.
189.
Negarane ambane
saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
190.
Tukang mangan suap saya
ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
191.
Wong jahat
ditampa---Orang jahat diterima.
192.
Wong suci
dibenci---Orang suci dibenci.
196.
Wong dosa
sentosa---Orang berdosa sentosa.
197.
Wong cilik
disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
198.
Wong nganggur kesungkur---Si
penganggur tersungkur.
199.
Wong sregep
krungkep---Si tekun terjerembab.
200.
Wong nyengit
kesengit---Orang busuk hati dibenci.
202.
Wong sugih krasa
wedi---Orang kaya ketakutan.
203.
Wong wedi dadi
priyayi---Orang takut jadi priyayi.
204.
Senenge wong
jahat---Berbahagialah si jahat.
205.
Susahe wong
cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
206.
Akeh wong dakwa
dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
207.
Tindake manungsa saya
kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
208.
Ratu karo Ratu pada
rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri
mana yang dipilih dan disukai.
209.
Wong Jawa kari
separo---Orang Jawa tinggal setengah.
211.
Akeh wong ijir, akeh
wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212.
Sing eman ora
keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
213.
Sing keduman ora
eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
214.
Akeh wong
mbambung---Banyak orang berulah dungu.
215.
Akeh wong
limbung---Banyak orang limbung.
216.
Selot-selote mbesuk
wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
Bait Terakhir Ramalan Jayabaya
140. polahe wong Jawa
kaya gabah diinteri\ endi sing bener endi sing sejati\ para tapa padha ora
wani\ padha wedi ngajarake piwulang adi\ salah-salah anemani pati\
141. banjir bandang ana
ngendi-endi\ gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni\ gehtinge kepathi-pati
marang pandhita kang oleh pati geni\ marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing
sayekti\
142. pancen
wolak-waliking jaman\ amenangi jaman edan\ ora edan ora kumanan\ sing waras
padha nggagas\ wong tani padha ditaleni\ wong dora padha ura-ura\ beja-bejane
sing lali,\ isih beja kang eling lan waspadha\
143. ratu ora netepi
janji\ musna kuwasa lan prabawane\ akeh omah ndhuwur kuda\ wong padha mangan
wong\ kayu gligan lan wesi hiya padha doyan\ dirasa enak kaya roti bolu\ yen
wengi padha ora bisa turu\
144. sing edan padha
bisa dandan\ sing ambangkang padha bisa\ nggalang omah gedong magrong-magrong\
145. wong dagang barang
sangsaya laris, bandhane ludes\ akeh wong mati kaliren gisining panganan\ akeh
wong nyekel bendha ning uriping sengsara\
146. wong waras lan adil
uripe ngenes lan kepencil\ sing ora abisa maling digethingi\ sing pinter duraka
dadi kanca\ wong bener sangsaya thenger-thenger\ wong salah sangsaya bungah\
akeh bandha musna tan karuan larine\ akeh pangkat lan drajat padha minggat tan
karuan sebabe\
147. bumi sangsaya suwe
sangsaya mengkeret\ sakilan bumi dipajeki\ wong wadon nganggo panganggo lanang\
iku pertandhane yen bakal nemoni\ wolak-walike zaman\
148. akeh wong janji ora
ditepati\ akeh wong nglanggar sumpahe dhewe\ manungsa padha seneng ngalap,\ tan
anindakake hukuming Allah\ barang jahat diangkat-angkat\ barang suci dibenci\
149. akeh wong
ngutamakake royal\ lali kamanungsane, lali kebecikane\ lali sanak lali kadang\
akeh bapa lali anak\ akeh anak mundhung biyung\ sedulur padha cidra\ keluarga
padha curiga\ kanca dadi mungsuh\ manungsa lali asale\
150. ukuman ratu ora
adil\ akeh pangkat jahat jahil\ kelakuan padha ganjil\ sing apik padha
kepencil\ akarya apik manungsa isin\ luwih utama ngapusi\
151. wanita nglamar
pria\ isih bayi padha mbayi\ sing pria padha ngasorake drajate dhewe\
Bait 152 sampai dengan 156 hilang
157. wong golek pangan
pindha gabah den interi\ sing kebat kliwat, sing kasep kepleset\ sing gedhe
rame, gawe sing cilik keceklik\ sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati\
nanging sing ngawur padha makmur\ sing ngati-ati padha sambat kepati-pati\
158. cina alang-alang
keplantrang dibandhem nggendring\ melu Jawa sing padha eling\ sing tan eling
miling-miling\ mlayu-mlayu kaya maling kena tuding\ eling mulih padha manjing\
akeh wong injir, akeh centhil\ sing eman ora keduman\ sing keduman ora eman\
159. selet-selete yen
mbesuk ngancik tutuping tahun\ sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu\
bakal ana dewa ngejawantah\ apengawak manungsa\ apasurya padha bethara Kresna\
awatak Baladewa\ agegaman trisula wedha\ jinejer wolak-waliking zaman\ wong
nyilih mbalekake,\ wong utang mbayar\ utang nyawa bayar nyawa\ utang wirang
nyaur wirang\
160. sadurunge ana
tetenger lintang kemukus lawa\ ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener\
lawase pitung bengi,\ parak esuk bener ilange\ bethara surya njumedhul\
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur\ iku tandane
putra Bethara Indra wus katon\ tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa\
161. dunungane ana sikil
redi Lawu sisih wetan\ wetane bengawan banyu\ andhedukuh pindha Raden
Gatotkaca\ arupa pagupon dara tundha tiga\ kaya manungsa angleledha\
162. akeh wong dicakot
lemut mati\ akeh wong dicakot semut sirna\ akeh swara aneh tanpa rupa\ bala
prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis\ tan kasat mata,
tan arupa\ sing madhegani putrane Bethara Indra\ agegaman trisula wedha\
momongane padha dadi nayaka perang\ perange tanpa bala\ sakti mandraguna tanpa
aji-aji
163. apeparap
pangeraning prang\ tan pokro anggoning nyandhang\ ning iya bisa nyembadani
ruwet rentenging wong sakpirang-pirang\ sing padha nyembah reca ndhaplang,\
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang\
164. putra kinasih
swargi kang jumeneng ing gunung Lawu\ hiya yayi bethara mukti, hiya krisna,
hiya herumukti\ mumpuni sakabehing laku\ nugel tanah Jawa kaping pindho\
ngerahake jin setan\ kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko
proyo\ kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda\ landhepe
triniji suci\ bener, jejeg, jujur\ kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong\
165. pendhak Sura
nguntapa kumara\ kang wus katon nembus dosane\ kadhepake ngarsaning sang kuasa\
isih timur kaceluk wong tuwa\ paringane Gatotkaca sayuta\
166. idune idu geni\
sabdane malati\ sing mbregendhul mesti mati\ ora tuwo, enom padha dene bayi\
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada\ garis sabda ora gentalan dina,\
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira\ tan karsa sinuyudan wong sak
tanah Jawa\ nanging inung pilih-pilih sapa\
167. waskita pindha
dewa\ bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira\ pindha lahir bareng
sadina\ ora bisa diapusi marga bisa maca ati\ wasis, wegig, waskita,\ ngerti
sakdurunge winarah\ bisa pirsa mbah-mbahira\ angawuningani jantraning zaman
Jawa\ ngerti garise siji-sijining umat\ Tan kewran sasuruping zaman\
168. mula den upadinen
sinatriya iku\ wus tan abapa, tan bibi, lola\ awus aputus weda Jawa\ mung
angandelake trisula\ landheping trisula pucuk\ gegawe pati utawa utang nyawa\
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan\ sing pinggir-pinggir tolak colong
njupuk winanda\
169. sirik den wenehi\
ati malati bisa kesiku\ senenge anggodha anjejaluk cara nistha\ ngertiyo yen
iku coba\ aja kaino\ ana beja-bejane sing den pundhuti\ ateges jantrane kaemong
sira sebrayat\
170. ing ngarsa Begawan\
dudu pandhita sinebut pandhita\ dudu dewa sinebut dewa\ kaya dene manungsa\
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh\ gawang-gawang terang ndrandhang\
171. aja gumun, aja
ngungun\ hiya iku putrane Bethara Indra\ kang pambayun tur isih kuwasa nundhung
setan\ tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh\ hiya siji iki kang bisa
paring pituduh\ marang jarwane jangka kalaningsun\ tan kena den apusi\ marga bisa
manjing jroning ati\ ana manungso kaiden ketemu\ uga ana jalma sing durung
mangsane\ aja sirik aja gela\ iku dudu wektunira\ nganggo simbol ratu tanpa
makutha\ mula sing menangi enggala den leluri\ aja kongsi zaman kendhata
madhepa den marikelu\ beja-bejane anak putu\
172. iki dalan kanggo
sing eling lan waspada\ ing zaman kalabendu Jawa\ aja nglarang dalem ngleluri
wong apengawak dewa\ cures ludhes saka braja jelma kumara\ aja-aja kleru
pandhita samusana\ larinen pandhita asenjata trisula wedha\ iku hiya
pinaringaning dewa\
173. nglurug tanpa bala\
yen menang tan ngasorake liyan\ para kawula padha suka-suka\ marga adiling
pangeran wus teka\ ratune nyembah kawula\ angagem trisula wedha\ para pandhita
hiya padha muja\ hiya iku momongane kaki Sabdopalon\ sing wis adu wirang
nanging kondhang\ genaha kacetha kanthi njingglang\ nora ana wong ngresula
kurang\ hiya iku tandane kalabendu wis minger\ centi wektu jejering kalamukti\
andayani indering jagad raya\ padha asung bhekti\